ANALISIS PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, LEVERAGE, AKTIVITAS, DAN PROFITABILITAS TERHADAP RETURN SAHAM
(STUDI PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN DENGAN KATEGORI INDUSTRI BARANG KONSUMSI DI BEJ)
I G. K. A. ULUPUI
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana
ABSTRACT
The purpose of this study is to empirically study the effect of accounting variables—liquidity ratio, leverage, activity ratio, and profitability ratio—on stock returns of the food and beverage firms registered between 1999--2005 on Jakarta Stock Exchange (JSX). The data is sampled using purposive sample judgment method. From 21 firms registered on JSX only 13 are used as samples for this study. The firms included are Asia Inti Sarana, Ades Alfindo Putra Setia, Aqua Golden Mississipi, Davomas Abadi, Mayora Indah, Indofood Sukses Makmur, Ultra Jaya Milk, Sinar Mas Agro Resources and Technology, Sari Husada , Cahaya Kalbar, Delta Djakarta, Fast Food Indonesia and Tunas Baru Lampung. The result of this study using multiple regression finds that only two variables (return on asset and current ratio) that significantly affect the following year stock return with level of significance 5 percent.
Keywords: financial statements, financial ratio, stock return
I. LATAR BELAKANG
Departemen Perindustrian dan Perdagangan mengeluarkan target pertumbuhan sector industri rata-rata 8 persen per tahun untuk periode 2005—2009. Selain itu, ditetapkan empat kelompok industri prioritas, yaitu industri berbasis pertanian atau agro (pengolahan kelapa sawit, pengalengan ikan, karet, kayu, cokelat, dan lain-lain), industri alat-alat transportasi (kendaraan bermotor, perkapalan, dan kedirgantaraan), industri telematika (informasi dan telekomunikasi) dan manufaktur (tekstil, alas kaki, keramik, elektronik, konsumsi kertas, dan ban) (http//www.kompas.co id). Namun, faktor utama yang menentukan kapasitas produksi suatu industri adalah modal investasi awal, perkembangan industri, ketersediaan SDM, teknologi sumber daya alam, dan sektor-sektor pendukung. Salah satu sektor pendukung untuk kelangsungan suatu industri adalah tersedianya dana. Sumber dana murah yang dapat diperoleh oleh suatu industri adalah dengan menjual saham kepada publik di pasar modal. Pasar modal di Indonesia, yaitu BEJ dapat menjadi media pertemuan antara investor dan industri.
Khusus untuk industri (manufacture) terdapat 153perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan industri makanan dan minuman ada sebanyak 20 perusahaan (ICMD, 2004). Masih sedikitnya industri makanan dan minuman yang mencari dana melalui pasar modal membuka kesempatan luas bagi perusahaan sejenis lainnya untuk mencari dana di BEJ. Bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar modal perlu memperhatikan syarat-syarat yang dikeluarkan oleh Bapepam sebagai regulator pasar modal. Selain itu, perusahaan juga harus mampu meningkatkan nilai perusahaan sehingga terjadi peningkatan penjualan sahamnya di pasar modal. Jika diasumsikan investor adalah seorang yang rasional, maka investor tersebut pasti akan sangat memperhatikan aspek fundamental untuk menilai ekspektasi imbal hasil yang akan diperolehnya. Laporan keuangan merupakan sebuah informasi yang penting bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. Manfaat laporan keuangan tersebut menjadi optimal bagi investor apabila investor dapat menganalisis lebih lanjut melalui analisis rasio keuangan (Penman, 1991). Horigan (1965) dalam (Tuasikal, 2001) menyatakan bahwa rasio keuangan berguna untuk memprediksi kesulitan keuangan perusahaan, hasil operasi, kondisi keuangan perusahaan saat ini dan pada masa mendatang, serta sebagai pedoman bagi investor mengenai kinerja masa lalu dan masa mendatang. Rasio keuangan yang berasal dari laporan keuangan ini sering disebut faktor fundamental perusahaan yang dilakukan dengan teknik analisis fundamental. Bagi perusahaan-perusahaan yang go public diharuskan menyertakan rasio keuangan yang relevan sesuai dengan Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-51/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996 (BEJ). Pengujian-pengujian yang dilakukan pada pasar modal di Indonesia banyak diilhami oleh penelitian-penelitian terdahulu yang dilakukan di negara lain, seperti O’Connor (1973) yang memelopori studi mengenai hubungan antara rasio keuangan berguna bagi investor (pemegang saham biasa) untuk mengambil keputusan.
Hasil pengujiannya menunjukkan bahwa analisis kekuatan dari variasi model ratio dengan rate of return menunjukkan adanya keragaman akan manfaat rasio keuangan bagi investor pemegang saham biasa. Ou & Penman (89) meneliti manfaat laporan keuangan dalam memprediksi return saham. Hasil riset mereka menunjukkan bahwa informasi akuntansi mengandung informasi fundamental yang tidak tercermin dalam harga saham. Gupa dan Heufner (1972) melanjutkan bahwa rasio-rasio keuangan tertentu memiliki manfaat atau arti yang berbeda ketika diasosiasikan dengan karakteristik industri tertentu yang berbeda. Mirip dengan pernyataan Gupa dan Heufner adalah apa yang dikemukakan oleh Foster (1986). Ia mengemukakan bahwa rasio tertentu antara industri yang satu dengan lainnya memiliki perbedaan yang signifikan. Investor perlu memiliki tolok ukur agar dapat mengetahui apakah jika ia melakukan investasi pada suatu perusahaan ia akan mendapatkan gain (keuntungan) apabila sahamnya
dijual.
II. KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Rasio Keuangan dan Manfaatnya
Rasio keuangan digunakan untuk membandingkan risiko dan tingkat imbal hasil dari berbagai perusahaan untuk membantu investor dan kreditor membuat keputusan investasi dan kredit yang baik (White et al., 2002). Ada empat kategori rasio yang digunakan untuk mengukur berbagai aspek dari hubungan risiko dan return (White et al., 2002), yaitu sebagai berikut:
(1) Analisis likuiditas: mengukur kecukupan sumber kas perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang berkaitan dengan kas dalam jangka pendek.
(2) Analisis solvency dan long term debt (leverage): menelaah struktur modal perusahaan, termasuk sumber dana jangka panjang dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban investasi dan utang jangka panjang.
(3) Analisis aktivitas: mengevaluasi revenue dan output yang dihasilkan oleh aset
perusahaan.
(4) Analisis profitabilitas: mengukur earnings (laba) perusahaan relatif terhadap revenue (sales) dan modal yang diinvestasikan. Salah satu tujuan dan keunggulan dari rasio adalah dapat digunakan untuk membandingkan hubungan return dan risiko dari perusahaan dengan ukuran yang berbeda. Rasio juga dapat menunjukkan profil suatu perusahaan, karakteristik ekonomi, strategi bersaing dan
keunikan karakteristik operasi, keuangan dan investasi.
2.2 Jenis-jenis Rasio Keuangan
terdapat berbagai definisi tentang rasio dan begitu variatif antara satu analis dengan lainnya demikian juga antara satu text book dengan text book lainnya atau antara satu laporan keuangan dengan laporan keuangan lainnya (White, 2002). Berikut dikutip beberapa rasio keuangan yang umum digunakan yang disadur dari buku The Analysis and Use of Financial Statements oleh White, Sondhi dan Fried (2002) hal. 119—135.
Activity analysis
Aktivitas operasi perusahaan membutuhkan investasi, baik untuk aset yang bersifat jangka pendek (inventory and account receivable) maupun jangka panjang (property, plan, and equipment). Rasio aktivitas menggambarkan hubungan antara tingkat operasi perusahaan (sales) dengan aset yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan operasi perusahaan tersebut. Rasio aktivitas juga dapat digunakan untuk memprediksi modal yang dibutuhkan perusahaan (baik untuk kegiatan operasi maupun jangka panjang). Misalnya untuk meningkatkan penjualan akan membutuhkan tambahan aset. Rasio aktivitas memungkinkan para analis menduga kebutuhan ini serta menilai kemampuan perusahaan untuk mendapatkan aset yang dibutuhkan untu mempertahankan tingkat pertumbuhannya.Dua buah contoh rasio aktivitas: inventory turnover, total asset turn over.
Working Capital Ratio
Konsep modal kerja atau operasi ini didasarkan atas klasifikasi aset dan liabilities dalam bentuk kategori lancar dan tidak lancar. Perbedaan secara tradisional antara current asset dan liabilities didasarkan pada jatuh tempo kurang dari satu tahun atau berdasarkan siklus operasi perusahaan yang normal (jika lebih). Terdapat tiga rasio membandingkan kas dengan utang lancar untuk mengukur kewajiban perusahaan (cash obligations): current ratio, cash ratio, cash flow from operations ratio.
Leverage (Debt) Ratio
Semakin tinggi proporsi debt relatif terhadap ekuitas meningkatkan risiko perusahaan. Sebagaimana rasio lainnya faktor industri dan ekonomi sangat mempengaruhi, baik tingkat debt maupun sifat debt (jatuh tempo dan tingkat bunga tetap dan variabel). Misalnya industri dengan modal yang intensif cenderung untuk menggunakan tingkat debt yang tinggi untuk mendanai property, plan, and equipment-nya. Debt untuk mendanai kegiatan semacam itu harus bersifat jangka panjang agar sesuai dengan jangka waktu aset yang diperoleh. Debt ratio ditunjukkan dengan perbandingan debt to total capital, debt to equity .
Profitability Analysis
Investor di pasar modal sangat memperhatikan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan, menunjang, dan meningkatkan profit. Profitability dapat diukur beberapa hal yang berbeda, namun dalam dimensi yang saling terkait. Pertama, terdapat hubungan antara profit dengan sales sehingga terjadi residual return bagi perusahaan per rupiah penjualan. Pengukuran yang lainnya adalah return on investment (ROI) atau disebut juga return on asset (ROA), yang berkaitan dengan profit dan investasi atau aset yang digunakan untuk menghasilkannya. Return on sales dapat berupa rasio gross margin, operating margin, profit margin. Return on investment dapat berupa rasio return on asset, dan return on equity. Penelitian ini menggunakan rasio likuiditas atau working capital ratio, rasio aktivitas (asset turn over), rasio debt, dan rasio profitabilitas yang masing-masing dipilih salah satu perhitungan rasio dari masing-masing rasio di atas. Misalnya untuk rasio aktivitas dinyatakan dengan total asset turn over (ATO), rasio likuiditas menggunakan current ratio (CURRENT), rasio debt atau leverage dijelaskan dengan debt to equity ratio (DTE), sedangkan rasio profitabilitas diukur dengan rasio return on asset. Hal ini sesuai dengan variabel yang digunakan oleh Tuasikal (2002), namun ia memasukkan seluruh komponen rasio dan ditambahkan dengan
rasio pasar. Demikian juga dengan Kennedy (2003) yang menggunakan seluruh rasio keuangan yang sesuai dengan analisis Dupont.
III. METODA PENELITIAN
3.1 Sampel dan Data
Perusahaan yang dijadikan sampel adalah perusahaan-perusahaan yang masuk dalam industri konsumsi, khususnya makanan dan minuman yang terdaftar di BEJ sejak tahun 1999-2005. Perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar sebanyak 21 perusahaan dan diambil 13 perusahaan sebagai sampel. Ketiga belas perusahaan itu adalah Asia Inti Sarana, Ades Alfindo Putra Setia, Aqua Golden Mississipi, Davomas Abadi, Mayora Indah, Indofood Sukses Makmur, Ultra Jaya Milk, Sinar Mas Agro Resources and Technology, Sari Husada DA, Cahaya Kalbar, Delta Djakarta, Fast Food Indonesia, dan Tunas Baru Lampung.
Ketiga belas perusahaan ini dipilih secara purposive dengan melihat kontinuitas usahanya selama tahun 1999—2005 dan telah menerbitkan laporan keuangan tahunan selama periode tersebut. Data yang digunakan adalah data-data akuntansi—untuk menghitung rasio keuangan— periode 1999—2003. Sementara data untuk memprediksi return saham satu tahun ke depan menggunakan data harga selama lima tahun sejak tahun 2000 sampai dengan 2005. Sumber data adalah dari Indonesian Capital Market Directory tahun 2002 dan 2004 serta Jsx-Yahoo.finance.
3.2 Variabel dan Pengukuran Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen/penjelas yang digunakan adalah rasio likuiditas, rasio debt, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas. Sebaliknya, variabel dependen/variabel yang dijelaskan yang diteliti adalah return saham perusahaan satu tahun ke depan. Laporan keuangan dapat digunakan untuk mencari berbagai macam rasio. Karena itu dikatakan bahwa laporan keuangan akan lebih berguna jika informasi yang disajikan berupa rasio–rasio. Untuk penelitian ini pemilihan rasio keuangan diproksikan dengan satu rasio keuangan yang pernah diteliti sebelumnya. Rasio likuiditas diproksikan dengan current ratio, yaitu rasio antara aktiva lancar dengan utang lancar. Rasio leverage diproksikan dengan debt to equity ratio, yaitu rasio yang mengukur perbandingan antara total debt dengan total equity. Sementara itu rasio aktivitas diproksikan dengan total asset turn over, sedangkan rasio profitabilitas diproksikan dengan return on equity dan return on asset.
3.3 Model Estimasi
Pada penelitian ini diajukan suatu model estimasi untuk menguji hipotesis.
Yt+1 = b0 + b1 Likuiditas + b2 Debt + b3 Aktivitas + b4 Profitabilitas+ei
Keterangan:
• Likuiditas: current ratio
• Debt: debt to equity ratio
• Aktivitas: total asset turn over
• Profitabilitas: return on asset.
3.4 Pengujian Hipotesis
Untuk mencapai tujuan penelitian, penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda. Pengujian terhadap hipotesis dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu sebagai berikut:
a. Uji signifikansi antara variabel bebas terhadap variabel terikat, baik secara bersama-sama
(serentak) maupun secara parsial dilakukan dengan menggunakan uji statistik F dan uji statistik t.
• Uji statistik F
Uji statistik F digunakan untuk menguji keberartian pengaruh dari seluruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
Ho: b1 b2 b3 b4 = 0
H1: b1 b2 b3 b4 ≠ 0
Artinya tidak terdapat pengaruh (alternatifnya terdapat pengaruh) yang signifikan secara bersama-sama dari seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Nilai F hitung dapat dicari dengan menggunakan rumus (Gujarati, 1995:121):
F hitung = R2/ (k – 1)
(1-R2)/(n-k)
Untuk menentukan nilai F-tabel, tingkat signifikansi yang digunakan sebesar 5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df = (n-k) dan (k-1) di mana n adalah jumlahobservasi, k adalah jumlah variabel termasuk intersep dengan kriteria uji yang digunakan adalah:
Jika F hit > F tabel (a;k-1;n-k), maka H0 ditolak
Jika F hit < F tabel (a; k-a; n-k), maka H0 diterima
• Uji t- statistik
Uji signifikansi koefisien (bi) dilakukan dengan statistik t (student t). Uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel bebasnya. Hipotesis yang digunakan adalah
H0 : bi = 0;
H1 : bi ≠ 0
Artinya tidak terdapat (alternatifnya terdapat) pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai t statistik dapat dicari dengan rumus (Gujarati, 1995; 114) t-hit = Koefisien regresi bi Standar deviasi b i
Untuk menentukan nilai t-statistik tabel ditentukan tingkat signifikansi 5% dengan derajat kebebasan df = (n-k-1) di mana n adalah jumlah observasi dan k adalah jumlah variabel termasuk intersep dengan kriteria uji adalah:
➢ Jika t hit > t tabel (α, n-k-1), maka Ho ditolak
➢ Jika t hit < t tabel (α, n-k-1), maka Ho diterima
Untuk melihat kontribusi kemampuan menjelaskan variabel bebas secara bersama-sama terhadap variansi variabel terikat dapat dilihat dari koefiesien determinasi (R2) berganda di mana nilai koefisiennya antara 0≤ 1. Hal ini berarti bahwa nilai R2 yang smakin besar mendekati 1 merupakan indikator yang menunjukkan semakin kuatnya kemampuan menjelaskan perubahan variabel independen terhadap variabel dependen .
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Informasi laporan keuangan akan lebih bermanfaat jika disajikan dalam bentuk rasio. Manfaat rasio keuangan ini akan semakin dirasakan oleh investor jika dapat digunakan sebagai pengambilan keputusan investasi. Manfaat rasio keuangan dalam memprediksi return saham dapat diukur dari tingkat signifikansi hubungan antara rasio keuangan pada tingkat individual terhadap return saham. Apabila hubungan antara rasio keuangan dengan return saham satu tahun ke depan signifikan, dapat dikatakan bahwa rasio keuangan tersebut bermanfaat dalam memprediksi return saham satu tahun ke depan. Sebaliknya, jika hubungan tersebut tidak signifikan, maka berarti rasio keuangan tidak bermanfaat dalam memprediksi return saham satu tahun ke depan. Hasil pengolahan data dengan menggunakan alat analisis SPSS for windows 12.
V. SIMPULAN, KETERBATASAN DAN IMPLIKASI
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, penelitian ini menemukan hal-hal sebagai berikut.
• Variabel current ratio memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return saham satu periode ke depan. Hal ini mengindikasikan bahwa pemodal akan memperoleh return yang lebih tinggi jika kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya semakin tinggi.
• Variabel return on asset berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham satu periode ke depan. Hasil ini konsisten dengan teori dan pendapat Mogdiliani dan Miller (MM) yang menyatakan bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh earnings power dari asset perusahaan. Hasil yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi earnings power semakin efisien perputaran aset dan atau semakin tinggi profit margin yang diperoleh oleh perusahaan. Hal ini berdampak pada peningkatan nilai perusahaan yang tentunya dapat mempengaruhi return saham satu tahun ke depan. Simpulan ini juga mendukung hasil penelitian terdahulu, antara lain Silalahi (2001), Natarsyah (2002), dan Kennedy (2003).
• Variabel debt to equity rasio menunjukkan hasil yang positif, tetapi tidak signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa rasio utang tidak menyebabkan perubahan return saham satu tahun ke depan. Hal ini tidak konsisten dengan penelitian Natarsyah yang menyatakan bahwa DTE berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan sampel dan variabel dependen yang digunakan. Kemungkinan hasil akan berbeda jika digunakan untuk memprediksi return dua atau tiga tahun ke depan.
• Variabel total asset turn over menunjukkan hasil yang negatif dan tidak signifikan. Penelitian ini hampir mirip dengan penelitian yang dilakukan Tuasikal pada perusahaan pemanufakturan dan nonpemanufakturan. Ia menemukan bahwa rasio aktivitas tidak bermanfaat untuk memprediksi return satu tahun ke depan. Namun, hasilnya akan berbeda ketika digunakan untuk memprediksi return dua tahun ke depan. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Kennedy (2003) yang menunjukkan variabel asset turn over berpengaruh signifikan terhadap return saham. Meskipun penelitian ini mengindikasikan bahwa rasio aktivitas belum mendapat perhatian dari investor untuk memprediksi return, diharapkan investor dapat mengamati aktivitas perusahaan berdasarkan rasio aktivitas ini.
5.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan.
• Pertama perusahaan yang dipilih dalam penelitian ini tidak random dan jumlahnya sangat sedikit.
• Penelitian ini tidak mempertimbangkan adanya size effect. Ukuran perusahaan
mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba yang pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat return yang diperoleh oleh investor.
• Jumlah rasio keuangan yang dimasukkan dalam model masih sangat sedikit sehingga hal ini mungkin akan mempengaruhi hasil analisis penelitian ini.
5.3 Implikasi bagi Penelitian Berikutnya
Penelitian berikutnya hendaknya dapat memperluas penelitian mengenai hal yang sama dengan mempertimbangkan faktor ekonomi, seperti tingkat inflasi, tingkat bunga, atau perubahan kurs sebagai variabel pemoderasi hubungan antara rasio keuangan dan return saham.
DAFTAR PUSTAKA
Asyik, Nur Fadjrih. 1999. “Tambahan Kandungan Informasi Rasio Arus Kas”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.2 No.2, Juli: 230—250.
Foster G.1986. Financial Statement. Second Edition. Prentice Hall, Singapore Inc.
Gujarati D. 2003. Basic Econometric. Forth Edition. Mc.Graw-Hill, International Edition.
Gupta M.C. dan R.J. Heufner.1972. A Cluster Analysis Study of Financial Ratios and IndustryCharacteristics, Journal of Accounting Research. Dalam Mas’ud Machfoedz, 1994, Financial Ratio Characteristic Analysis and The Prediction of Earnings Changes in Indonesia. Kelola No. 7: 114—133.
Horrigan, O.J. 1965. “Some Empirical Bases of Financial Ratio Analysis”. The Accounting Review. July: 555—568.
Http://www.kompas.co.id. Di-download 18 April 2005.
Kennedy J.S.P. 2003. “Analisis Pengaruh dari Return on Asset, Return on Equity, Earnings Per Share, Profit Margin, Asset Turnover , Rasio Leverage dan Debt to Equity Ratio terhadap Return Saham (Studi terhadap Saham-saham yang Termasuk dalam LQ-45 di BEJ Tahun 2001)”. Tesis tidak dipublikasikan, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta.
Machfoedz, Mas’ud. 1994. “Financial Ratio Characteristic Analysis and The Prediction of Earnings Changes in Indonesia”, Kelola No. 7: 114—133.
Natarsyah S. 2002. “Analisis Pengaruh beberapa Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik terhadap Harga Saham”. Bunga Rampai Kajian Teori Keuangan. Jogjakarta: BPFE.
Nur Indriantoro dan Bambang Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen Edisi pertama. Jogjakarta: BPFE.
O’Connor, Melvin. C. 1973. “On The Usefulness of Financial Ratios to Investors in Common Stock”. The Accounting Review. April: 339—352.
Pankoff dan Vergill. 1970. “On The Usefullness of Financial Statement Information: Suggested Research Approach”. Accounting Review. April, 269—279.
Parawiyati, Ambar W.H., Edi S. 2000. “Penggunaan Informasi Keuangan untuk Memprediksi Keuntungan Investasi bagi Investor di Pasar Modal”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol.3, No. 2, Juli: 214—228.
Silalahi, D. 1991. “Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Harga Saham (Studi pada Pasar Modal Indonesia)”. Tesis tidak dipublikasikan. Program Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya.
Standar Akuntansi Keuangan. 1999. IAI. Jakarta: Salemba Empat.
Surat Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-51/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996. Tuasikal A. 2001. “Penggunaan Informasi Akuntansi untuk Memprediksi Return Saham: Studi terhadap Perusahaan Pemanufakturan dan Nonpemanufakturan”. Simposium Nasional Akuntansi IV. Bandung Agustus; 762—786.
White G.I., Ashwinpaul C. Sondhi dan Dov Fried. 2003. The Analysis and Use of Financial Statements. USA: John Wiley. pg. 119—135.
Zainudin dan Jogiyanto H. 1999. “Manfaat Rasio Keuangan dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba: Suatu Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 02, No. 01, Januari: 66—84.













0 komentar:
Posting Komentar