COLORING THE GLOBAL FUTURE

Klik gambarnya untuk melihat postingannya-ellaedwin.blogspot.com.

CONGRATULATION

Klik gambarnya untuk melihat postingannya-ellaedwin.blogspot.com.

VISI DAN MISI UG

Klik gambarnya untuk melihat postingannya-ellaedwin.blogspot.com.

WEBSITE UG

Klik gambarnya untuk melihat postingannya-ellaedwin.blogspot.com.

STUDENTSITE UG

Klik gambarnya untuk melihat postingannya-ellaedwin.blogspot.com.

Kamis, 25 Maret 2010

RESUME 2

ANALISIS PENGARUH RASIO LIKUIDITAS, LEVERAGE, AKTIVITAS, DAN PROFITABILITAS TERHADAP RETURN SAHAM
(STUDI PADA PERUSAHAAN MAKANAN DAN MINUMAN DENGAN KATEGORI INDUSTRI BARANG KONSUMSI DI BEJ)


I G. K. A. ULUPUI
Jurusan Akuntansi
Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana


ABSTRACT

The purpose of this study is to empirically study the effect of accounting variables—liquidity ratio, leverage, activity ratio, and profitability ratio—on stock returns of the food and beverage firms registered between 1999--2005 on Jakarta Stock Exchange (JSX). The data is sampled using purposive sample judgment method. From 21 firms registered on JSX only 13 are used as samples for this study. The firms included are Asia Inti Sarana, Ades Alfindo Putra Setia, Aqua Golden Mississipi, Davomas Abadi, Mayora Indah, Indofood Sukses Makmur, Ultra Jaya Milk, Sinar Mas Agro Resources and Technology, Sari Husada , Cahaya Kalbar, Delta Djakarta, Fast Food Indonesia and Tunas Baru Lampung. The result of this study using multiple regression finds that only two variables (return on asset and current ratio) that significantly affect the following year stock return with level of significance 5 percent.

Keywords: financial statements, financial ratio, stock return




I. LATAR BELAKANG
Departemen Perindustrian dan Perdagangan mengeluarkan target pertumbuhan sector industri rata-rata 8 persen per tahun untuk periode 2005—2009. Selain itu, ditetapkan empat kelompok industri prioritas, yaitu industri berbasis pertanian atau agro (pengolahan kelapa sawit, pengalengan ikan, karet, kayu, cokelat, dan lain-lain), industri alat-alat transportasi (kendaraan bermotor, perkapalan, dan kedirgantaraan), industri telematika (informasi dan telekomunikasi) dan manufaktur (tekstil, alas kaki, keramik, elektronik, konsumsi kertas, dan ban) (http//www.kompas.co id). Namun, faktor utama yang menentukan kapasitas produksi suatu industri adalah modal investasi awal, perkembangan industri, ketersediaan SDM, teknologi sumber daya alam, dan sektor-sektor pendukung. Salah satu sektor pendukung untuk kelangsungan suatu industri adalah tersedianya dana. Sumber dana murah yang dapat diperoleh oleh suatu industri adalah dengan menjual saham kepada publik di pasar modal. Pasar modal di Indonesia, yaitu BEJ dapat menjadi media pertemuan antara investor dan industri.
Khusus untuk industri (manufacture) terdapat 153perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan industri makanan dan minuman ada sebanyak 20 perusahaan (ICMD, 2004). Masih sedikitnya industri makanan dan minuman yang mencari dana melalui pasar modal membuka kesempatan luas bagi perusahaan sejenis lainnya untuk mencari dana di BEJ. Bagi perusahaan yang ingin masuk ke pasar modal perlu memperhatikan syarat-syarat yang dikeluarkan oleh Bapepam sebagai regulator pasar modal. Selain itu, perusahaan juga harus mampu meningkatkan nilai perusahaan sehingga terjadi peningkatan penjualan sahamnya di pasar modal. Jika diasumsikan investor adalah seorang yang rasional, maka investor tersebut pasti akan sangat memperhatikan aspek fundamental untuk menilai ekspektasi imbal hasil yang akan diperolehnya. Laporan keuangan merupakan sebuah informasi yang penting bagi investor dalam mengambil keputusan investasi. Manfaat laporan keuangan tersebut menjadi optimal bagi investor apabila investor dapat menganalisis lebih lanjut melalui analisis rasio keuangan (Penman, 1991). Horigan (1965) dalam (Tuasikal, 2001) menyatakan bahwa rasio keuangan berguna untuk memprediksi kesulitan keuangan perusahaan, hasil operasi, kondisi keuangan perusahaan saat ini dan pada masa mendatang, serta sebagai pedoman bagi investor mengenai kinerja masa lalu dan masa mendatang. Rasio keuangan yang berasal dari laporan keuangan ini sering disebut faktor fundamental perusahaan yang dilakukan dengan teknik analisis fundamental. Bagi perusahaan-perusahaan yang go public diharuskan menyertakan rasio keuangan yang relevan sesuai dengan Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-51/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996 (BEJ). Pengujian-pengujian yang dilakukan pada pasar modal di Indonesia banyak diilhami oleh penelitian-penelitian terdahulu yang dilakukan di negara lain, seperti O’Connor (1973) yang memelopori studi mengenai hubungan antara rasio keuangan berguna bagi investor (pemegang saham biasa) untuk mengambil keputusan.
Hasil pengujiannya menunjukkan bahwa analisis kekuatan dari variasi model ratio dengan rate of return menunjukkan adanya keragaman akan manfaat rasio keuangan bagi investor pemegang saham biasa. Ou & Penman (89) meneliti manfaat laporan keuangan dalam memprediksi return saham. Hasil riset mereka menunjukkan bahwa informasi akuntansi mengandung informasi fundamental yang tidak tercermin dalam harga saham. Gupa dan Heufner (1972) melanjutkan bahwa rasio-rasio keuangan tertentu memiliki manfaat atau arti yang berbeda ketika diasosiasikan dengan karakteristik industri tertentu yang berbeda. Mirip dengan pernyataan Gupa dan Heufner adalah apa yang dikemukakan oleh Foster (1986). Ia mengemukakan bahwa rasio tertentu antara industri yang satu dengan lainnya memiliki perbedaan yang signifikan. Investor perlu memiliki tolok ukur agar dapat mengetahui apakah jika ia melakukan investasi pada suatu perusahaan ia akan mendapatkan gain (keuntungan) apabila sahamnya
dijual.

II. KAJIAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Rasio Keuangan dan Manfaatnya
Rasio keuangan digunakan untuk membandingkan risiko dan tingkat imbal hasil dari berbagai perusahaan untuk membantu investor dan kreditor membuat keputusan investasi dan kredit yang baik (White et al., 2002). Ada empat kategori rasio yang digunakan untuk mengukur berbagai aspek dari hubungan risiko dan return (White et al., 2002), yaitu sebagai berikut:
(1) Analisis likuiditas: mengukur kecukupan sumber kas perusahaan untuk memenuhi kewajiban yang berkaitan dengan kas dalam jangka pendek.
(2) Analisis solvency dan long term debt (leverage): menelaah struktur modal perusahaan, termasuk sumber dana jangka panjang dan kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban investasi dan utang jangka panjang.
(3) Analisis aktivitas: mengevaluasi revenue dan output yang dihasilkan oleh aset
perusahaan.
(4) Analisis profitabilitas: mengukur earnings (laba) perusahaan relatif terhadap revenue (sales) dan modal yang diinvestasikan. Salah satu tujuan dan keunggulan dari rasio adalah dapat digunakan untuk membandingkan hubungan return dan risiko dari perusahaan dengan ukuran yang berbeda. Rasio juga dapat menunjukkan profil suatu perusahaan, karakteristik ekonomi, strategi bersaing dan
keunikan karakteristik operasi, keuangan dan investasi.

2.2 Jenis-jenis Rasio Keuangan
terdapat berbagai definisi tentang rasio dan begitu variatif antara satu analis dengan lainnya demikian juga antara satu text book dengan text book lainnya atau antara satu laporan keuangan dengan laporan keuangan lainnya (White, 2002). Berikut dikutip beberapa rasio keuangan yang umum digunakan yang disadur dari buku The Analysis and Use of Financial Statements oleh White, Sondhi dan Fried (2002) hal. 119—135.
Activity analysis
Aktivitas operasi perusahaan membutuhkan investasi, baik untuk aset yang bersifat jangka pendek (inventory and account receivable) maupun jangka panjang (property, plan, and equipment). Rasio aktivitas menggambarkan hubungan antara tingkat operasi perusahaan (sales) dengan aset yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan operasi perusahaan tersebut. Rasio aktivitas juga dapat digunakan untuk memprediksi modal yang dibutuhkan perusahaan (baik untuk kegiatan operasi maupun jangka panjang). Misalnya untuk meningkatkan penjualan akan membutuhkan tambahan aset. Rasio aktivitas memungkinkan para analis menduga kebutuhan ini serta menilai kemampuan perusahaan untuk mendapatkan aset yang dibutuhkan untu mempertahankan tingkat pertumbuhannya.Dua buah contoh rasio aktivitas: inventory turnover, total asset turn over.
Working Capital Ratio
Konsep modal kerja atau operasi ini didasarkan atas klasifikasi aset dan liabilities dalam bentuk kategori lancar dan tidak lancar. Perbedaan secara tradisional antara current asset dan liabilities didasarkan pada jatuh tempo kurang dari satu tahun atau berdasarkan siklus operasi perusahaan yang normal (jika lebih). Terdapat tiga rasio membandingkan kas dengan utang lancar untuk mengukur kewajiban perusahaan (cash obligations): current ratio, cash ratio, cash flow from operations ratio.
Leverage (Debt) Ratio
Semakin tinggi proporsi debt relatif terhadap ekuitas meningkatkan risiko perusahaan. Sebagaimana rasio lainnya faktor industri dan ekonomi sangat mempengaruhi, baik tingkat debt maupun sifat debt (jatuh tempo dan tingkat bunga tetap dan variabel). Misalnya industri dengan modal yang intensif cenderung untuk menggunakan tingkat debt yang tinggi untuk mendanai property, plan, and equipment-nya. Debt untuk mendanai kegiatan semacam itu harus bersifat jangka panjang agar sesuai dengan jangka waktu aset yang diperoleh. Debt ratio ditunjukkan dengan perbandingan debt to total capital, debt to equity .
Profitability Analysis
Investor di pasar modal sangat memperhatikan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan, menunjang, dan meningkatkan profit. Profitability dapat diukur beberapa hal yang berbeda, namun dalam dimensi yang saling terkait. Pertama, terdapat hubungan antara profit dengan sales sehingga terjadi residual return bagi perusahaan per rupiah penjualan. Pengukuran yang lainnya adalah return on investment (ROI) atau disebut juga return on asset (ROA), yang berkaitan dengan profit dan investasi atau aset yang digunakan untuk menghasilkannya. Return on sales dapat berupa rasio gross margin, operating margin, profit margin. Return on investment dapat berupa rasio return on asset, dan return on equity. Penelitian ini menggunakan rasio likuiditas atau working capital ratio, rasio aktivitas (asset turn over), rasio debt, dan rasio profitabilitas yang masing-masing dipilih salah satu perhitungan rasio dari masing-masing rasio di atas. Misalnya untuk rasio aktivitas dinyatakan dengan total asset turn over (ATO), rasio likuiditas menggunakan current ratio (CURRENT), rasio debt atau leverage dijelaskan dengan debt to equity ratio (DTE), sedangkan rasio profitabilitas diukur dengan rasio return on asset. Hal ini sesuai dengan variabel yang digunakan oleh Tuasikal (2002), namun ia memasukkan seluruh komponen rasio dan ditambahkan dengan
rasio pasar. Demikian juga dengan Kennedy (2003) yang menggunakan seluruh rasio keuangan yang sesuai dengan analisis Dupont.

III. METODA PENELITIAN
3.1 Sampel dan Data
Perusahaan yang dijadikan sampel adalah perusahaan-perusahaan yang masuk dalam industri konsumsi, khususnya makanan dan minuman yang terdaftar di BEJ sejak tahun 1999-2005. Perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar sebanyak 21 perusahaan dan diambil 13 perusahaan sebagai sampel. Ketiga belas perusahaan itu adalah Asia Inti Sarana, Ades Alfindo Putra Setia, Aqua Golden Mississipi, Davomas Abadi, Mayora Indah, Indofood Sukses Makmur, Ultra Jaya Milk, Sinar Mas Agro Resources and Technology, Sari Husada DA, Cahaya Kalbar, Delta Djakarta, Fast Food Indonesia, dan Tunas Baru Lampung.
Ketiga belas perusahaan ini dipilih secara purposive dengan melihat kontinuitas usahanya selama tahun 1999—2005 dan telah menerbitkan laporan keuangan tahunan selama periode tersebut. Data yang digunakan adalah data-data akuntansi—untuk menghitung rasio keuangan— periode 1999—2003. Sementara data untuk memprediksi return saham satu tahun ke depan menggunakan data harga selama lima tahun sejak tahun 2000 sampai dengan 2005. Sumber data adalah dari Indonesian Capital Market Directory tahun 2002 dan 2004 serta Jsx-Yahoo.finance.
3.2 Variabel dan Pengukuran Variabel
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu variabel independen dan variabel dependen. Variabel independen/penjelas yang digunakan adalah rasio likuiditas, rasio debt, rasio aktivitas, dan rasio profitabilitas. Sebaliknya, variabel dependen/variabel yang dijelaskan yang diteliti adalah return saham perusahaan satu tahun ke depan. Laporan keuangan dapat digunakan untuk mencari berbagai macam rasio. Karena itu dikatakan bahwa laporan keuangan akan lebih berguna jika informasi yang disajikan berupa rasio–rasio. Untuk penelitian ini pemilihan rasio keuangan diproksikan dengan satu rasio keuangan yang pernah diteliti sebelumnya. Rasio likuiditas diproksikan dengan current ratio, yaitu rasio antara aktiva lancar dengan utang lancar. Rasio leverage diproksikan dengan debt to equity ratio, yaitu rasio yang mengukur perbandingan antara total debt dengan total equity. Sementara itu rasio aktivitas diproksikan dengan total asset turn over, sedangkan rasio profitabilitas diproksikan dengan return on equity dan return on asset.

3.3 Model Estimasi
Pada penelitian ini diajukan suatu model estimasi untuk menguji hipotesis.
Yt+1 = b0 + b1 Likuiditas + b2 Debt + b3 Aktivitas + b4 Profitabilitas+ei
Keterangan:
• Likuiditas: current ratio
• Debt: debt to equity ratio
• Aktivitas: total asset turn over
• Profitabilitas: return on asset.

3.4 Pengujian Hipotesis
Untuk mencapai tujuan penelitian, penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi berganda. Pengujian terhadap hipotesis dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu sebagai berikut:
a. Uji signifikansi antara variabel bebas terhadap variabel terikat, baik secara bersama-sama
(serentak) maupun secara parsial dilakukan dengan menggunakan uji statistik F dan uji statistik t.
• Uji statistik F
Uji statistik F digunakan untuk menguji keberartian pengaruh dari seluruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Hipotesis dirumuskan sebagai berikut:
Ho: b1 b2 b3 b4 = 0
H1: b1 b2 b3 b4 ≠ 0
Artinya tidak terdapat pengaruh (alternatifnya terdapat pengaruh) yang signifikan secara bersama-sama dari seluruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Nilai F hitung dapat dicari dengan menggunakan rumus (Gujarati, 1995:121):
F hitung = R2/ (k – 1)
(1-R2)/(n-k)
Untuk menentukan nilai F-tabel, tingkat signifikansi yang digunakan sebesar 5% dengan derajat kebebasan (degree of freedom) df = (n-k) dan (k-1) di mana n adalah jumlahobservasi, k adalah jumlah variabel termasuk intersep dengan kriteria uji yang digunakan adalah:
Jika F hit > F tabel (a;k-1;n-k), maka H0 ditolak
Jika F hit < F tabel (a; k-a; n-k), maka H0 diterima • Uji t- statistik Uji signifikansi koefisien (bi) dilakukan dengan statistik t (student t). Uji t digunakan untuk menguji koefisien regresi secara parsial dari variabel bebasnya. Hipotesis yang digunakan adalah H0 : bi = 0; H1 : bi ≠ 0 Artinya tidak terdapat (alternatifnya terdapat) pengaruh yang signifikan dari variabel independen terhadap variabel dependen. Nilai t statistik dapat dicari dengan rumus (Gujarati, 1995; 114) t-hit = Koefisien regresi bi Standar deviasi b i Untuk menentukan nilai t-statistik tabel ditentukan tingkat signifikansi 5% dengan derajat kebebasan df = (n-k-1) di mana n adalah jumlah observasi dan k adalah jumlah variabel termasuk intersep dengan kriteria uji adalah: ➢ Jika t hit > t tabel (α, n-k-1), maka Ho ditolak
➢ Jika t hit < t tabel (α, n-k-1), maka Ho diterima
Untuk melihat kontribusi kemampuan menjelaskan variabel bebas secara bersama-sama terhadap variansi variabel terikat dapat dilihat dari koefiesien determinasi (R2) berganda di mana nilai koefisiennya antara 0≤ 1. Hal ini berarti bahwa nilai R2 yang smakin besar mendekati 1 merupakan indikator yang menunjukkan semakin kuatnya kemampuan menjelaskan perubahan variabel independen terhadap variabel dependen .

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Informasi laporan keuangan akan lebih bermanfaat jika disajikan dalam bentuk rasio. Manfaat rasio keuangan ini akan semakin dirasakan oleh investor jika dapat digunakan sebagai pengambilan keputusan investasi. Manfaat rasio keuangan dalam memprediksi return saham dapat diukur dari tingkat signifikansi hubungan antara rasio keuangan pada tingkat individual terhadap return saham. Apabila hubungan antara rasio keuangan dengan return saham satu tahun ke depan signifikan, dapat dikatakan bahwa rasio keuangan tersebut bermanfaat dalam memprediksi return saham satu tahun ke depan. Sebaliknya, jika hubungan tersebut tidak signifikan, maka berarti rasio keuangan tidak bermanfaat dalam memprediksi return saham satu tahun ke depan. Hasil pengolahan data dengan menggunakan alat analisis SPSS for windows 12.

V. SIMPULAN, KETERBATASAN DAN IMPLIKASI

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pembahasan di atas, penelitian ini menemukan hal-hal sebagai berikut.
• Variabel current ratio memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap return saham satu periode ke depan. Hal ini mengindikasikan bahwa pemodal akan memperoleh return yang lebih tinggi jika kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya semakin tinggi.
• Variabel return on asset berpengaruh positif dan signifikan terhadap return saham satu periode ke depan. Hasil ini konsisten dengan teori dan pendapat Mogdiliani dan Miller (MM) yang menyatakan bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh earnings power dari asset perusahaan. Hasil yang positif menunjukkan bahwa semakin tinggi earnings power semakin efisien perputaran aset dan atau semakin tinggi profit margin yang diperoleh oleh perusahaan. Hal ini berdampak pada peningkatan nilai perusahaan yang tentunya dapat mempengaruhi return saham satu tahun ke depan. Simpulan ini juga mendukung hasil penelitian terdahulu, antara lain Silalahi (2001), Natarsyah (2002), dan Kennedy (2003).
• Variabel debt to equity rasio menunjukkan hasil yang positif, tetapi tidak signifikan. Hal ini mengindikasikan bahwa rasio utang tidak menyebabkan perubahan return saham satu tahun ke depan. Hal ini tidak konsisten dengan penelitian Natarsyah yang menyatakan bahwa DTE berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan sampel dan variabel dependen yang digunakan. Kemungkinan hasil akan berbeda jika digunakan untuk memprediksi return dua atau tiga tahun ke depan.
• Variabel total asset turn over menunjukkan hasil yang negatif dan tidak signifikan. Penelitian ini hampir mirip dengan penelitian yang dilakukan Tuasikal pada perusahaan pemanufakturan dan nonpemanufakturan. Ia menemukan bahwa rasio aktivitas tidak bermanfaat untuk memprediksi return satu tahun ke depan. Namun, hasilnya akan berbeda ketika digunakan untuk memprediksi return dua tahun ke depan. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Kennedy (2003) yang menunjukkan variabel asset turn over berpengaruh signifikan terhadap return saham. Meskipun penelitian ini mengindikasikan bahwa rasio aktivitas belum mendapat perhatian dari investor untuk memprediksi return, diharapkan investor dapat mengamati aktivitas perusahaan berdasarkan rasio aktivitas ini.

5.2 Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan.
• Pertama perusahaan yang dipilih dalam penelitian ini tidak random dan jumlahnya sangat sedikit.
• Penelitian ini tidak mempertimbangkan adanya size effect. Ukuran perusahaan
mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk memperoleh laba yang pada akhirnya dapat mempengaruhi tingkat return yang diperoleh oleh investor.
• Jumlah rasio keuangan yang dimasukkan dalam model masih sangat sedikit sehingga hal ini mungkin akan mempengaruhi hasil analisis penelitian ini.

5.3 Implikasi bagi Penelitian Berikutnya
Penelitian berikutnya hendaknya dapat memperluas penelitian mengenai hal yang sama dengan mempertimbangkan faktor ekonomi, seperti tingkat inflasi, tingkat bunga, atau perubahan kurs sebagai variabel pemoderasi hubungan antara rasio keuangan dan return saham.


















DAFTAR PUSTAKA
Asyik, Nur Fadjrih. 1999. “Tambahan Kandungan Informasi Rasio Arus Kas”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.2 No.2, Juli: 230—250.
Foster G.1986. Financial Statement. Second Edition. Prentice Hall, Singapore Inc.
Gujarati D. 2003. Basic Econometric. Forth Edition. Mc.Graw-Hill, International Edition.
Gupta M.C. dan R.J. Heufner.1972. A Cluster Analysis Study of Financial Ratios and IndustryCharacteristics, Journal of Accounting Research. Dalam Mas’ud Machfoedz, 1994, Financial Ratio Characteristic Analysis and The Prediction of Earnings Changes in Indonesia. Kelola No. 7: 114—133.
Horrigan, O.J. 1965. “Some Empirical Bases of Financial Ratio Analysis”. The Accounting Review. July: 555—568.
Http://www.kompas.co.id. Di-download 18 April 2005.
Kennedy J.S.P. 2003. “Analisis Pengaruh dari Return on Asset, Return on Equity, Earnings Per Share, Profit Margin, Asset Turnover , Rasio Leverage dan Debt to Equity Ratio terhadap Return Saham (Studi terhadap Saham-saham yang Termasuk dalam LQ-45 di BEJ Tahun 2001)”. Tesis tidak dipublikasikan, Program Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta.
Machfoedz, Mas’ud. 1994. “Financial Ratio Characteristic Analysis and The Prediction of Earnings Changes in Indonesia”, Kelola No. 7: 114—133.
Natarsyah S. 2002. “Analisis Pengaruh beberapa Faktor Fundamental dan Risiko Sistematik terhadap Harga Saham”. Bunga Rampai Kajian Teori Keuangan. Jogjakarta: BPFE.
Nur Indriantoro dan Bambang Supomo. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen Edisi pertama. Jogjakarta: BPFE.
O’Connor, Melvin. C. 1973. “On The Usefulness of Financial Ratios to Investors in Common Stock”. The Accounting Review. April: 339—352.
Pankoff dan Vergill. 1970. “On The Usefullness of Financial Statement Information: Suggested Research Approach”. Accounting Review. April, 269—279.
Parawiyati, Ambar W.H., Edi S. 2000. “Penggunaan Informasi Keuangan untuk Memprediksi Keuntungan Investasi bagi Investor di Pasar Modal”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol.3, No. 2, Juli: 214—228.
Silalahi, D. 1991. “Beberapa Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Harga Saham (Studi pada Pasar Modal Indonesia)”. Tesis tidak dipublikasikan. Program Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya.
Standar Akuntansi Keuangan. 1999. IAI. Jakarta: Salemba Empat.
Surat Keputusan Ketua Bapepam Nomor KEP-51/PM/1996 tanggal 17 Januari 1996. Tuasikal A. 2001. “Penggunaan Informasi Akuntansi untuk Memprediksi Return Saham: Studi terhadap Perusahaan Pemanufakturan dan Nonpemanufakturan”. Simposium Nasional Akuntansi IV. Bandung Agustus; 762—786.
White G.I., Ashwinpaul C. Sondhi dan Dov Fried. 2003. The Analysis and Use of Financial Statements. USA: John Wiley. pg. 119—135.
Zainudin dan Jogiyanto H. 1999. “Manfaat Rasio Keuangan dalam Memprediksi Pertumbuhan Laba: Suatu Studi Empiris pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta”. Jurnal Riset Akuntansi Indonesia. Vol. 02, No. 01, Januari: 66—84.

RESUME 1

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DAN EFISIENSI
BIAYA MELALUI INTEGRASI TIME & MOTION
STUDY DAN ACTIVITY-BASED COSTING

Monika Kussetya Ciptani
Dosen Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi - Universitas Kristen Petra

ABSTRAK

Kemajuan perusahaan sebagai organisasi bisnis, membuat aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan semakin meningkat. Berbagai macam aktivitas dilakukan oleh perusahaan dalam rangka memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan customer. Perusahaan berusaha untuk meningkatkan efisiensi aktivitas dan melakukan pengukuran tingkat aktivitas yang dilakukan, padahal tingkat kesulitan yang dihadapi perusahaan untuk melakukan pengukuran setiap aktivitas yang dilakukan cukup tinggi. Metode time & motion study memberikan solusi bagi perusahaan untuk melakukan pengukuran tingkat aktivitas yang dilakukan. Setiap pergerakan atau perpindahan suatu aktivitas mengkonsumsi waktu dan sumber daya, sehingga terdapat banyak teknik pengukuran time & motion study seperti work sampling, work-unit activity, time standard dan sebagainya. Dengan berbagai teknik pengukuran tersebut, maka perusahaan akan dapat mengukur tingkat produktivitas setiap sumber daya yang digunakan dalam menyelesaikan aktivitas. Untuk melengkapi teknik efisiensi biaya pada perusahaan, maka perusahaan perlu melakukan pembebanan biaya yang akurat. Dalam hal ini metode Activity-Based Costing (ABC) adalah metode yang dianggap paling sesuai untuk diintegrasikan karena metode ABC pada dasarnya membebankan biaya-biaya tidak langsung berdasarkan aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan.
Kata kunci: time & motion study, activity-based costing, produktivitas, efisiensi biaya, pembebanan biaya, waktu standar.

1. PENDAHULUAN
Keberhasilan setiap organisasi bisnis dewasa ini tergantung pada keberhasilan proses bisnis yang diselaraskan dengan tujuan dan strategi organisasi perusahaan secara keseluruhan. Lebih jauh lagi, setiap individu yang berada dalam organisasi tersebut haruslah mengerti seberapa besar masing-masing individu memahami tujuan dan berperan dalam proses pencapaian tujuan, sehingga sangatlah penting bagi sebuah organisasi untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan dalam rangka pencapaian tujuan utama perusahaan. Untuk mencapai tujuan yang diinginkan, perusahaan haruslah meningkatkan kinerja dari satu periode ke periode berikutnya. Peningkatan kinerja tersebut dapat dicapai antara lain dengan melakukan process improvement, yaitu aktivitas perusahaan untuk melakukan peningkatan proses yang dapat memberikan nilai tambah secara terus menerus (Trischler 1996:3). Dengan melakukan process improvement, maka perusahaan akan dapat menciptakan keunggulan kompetitif untuk memenuhi apa yang menjadi keinginan customer (pelanggan). Salah satu fokus perhatian dalam menciptakan process improvement adalah melakukan perencanaan dan pengendalian aktivitas proses bisnis internal atau proses produksi dalam perusahan. Aktivitas proses produksi sangatlah penting untuk dikendalikan, karena dari sanalah peningkatan kinerja perusahaan berasal.

2. PEMBAHASAN
2.1 Time & Motion Study
Penggunaan istilah Time & Motion Study, mengacu pada salah satu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan cara yang sistematik untuk menentukanmetode kerja yang sesuai, menentukan waktu yang dibutuhkan atas penggunaan mesin atau tenaga manusia untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu dan menentukan bahan baku yang dibutuhkan agar pekerjaan tersebut dapat diselesaikan. Menurut Marvin E. Mundel (1994:1), istilah Time & Motion Study itu sendiri dapat diartikan atas dua hal :
1. Motion Study
Aspek motion study terdiri dari deskripsi, analitis sistematis dan pengembangan metode kerja dalam menentukan bahan baku, desain output, proses, alat, tempat kerja, dan perlengkapan untuk setiap langkah dalam suatu proses, aktivitas manusia yang mengerjakan setiap aktivitas itu sendiri. Tujuan metode motion study adalah untuk menentukan atau mendesain metode kerja yang sesuai untuk menyelesaikan sebuah aktivitas.
2. Time Study
Aspek utama time study terdiri atas keragaman prosedur untuk menentukan lama waktu yang dibutuhkan dengan standar pengukuran waktu yang ditetapkan, untuk setiap aktivitas yang melibatkan manusia, mesin atau kombinasi aktivitas. Metode Time & Motion Study ini pada dasarnya dapat diterapkan ke semua bidang dan fungsi serta aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan. Dalam penerapan Time & Motion Study ini diperlukan tiga asumsi dasar yang harus dipenuhi (Dunner 1994:35)
• Secara umum terdapat banyak cara yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan suatu perkerjaan, tetapi karena keterbatasan pengetahuan yang dimiliki, biasanya akan muncul satu metode saja yang lebih dominan.
• Metode-metode scientific untuk memecahkan masalah lebih sering digunakan dan memberikan hasil yang baik dibandingkan metode pemecahan masalah yang tidak bersifat scientific.
• Standar pengukuran kinerja atau nilai waktu dari sebuah pekerjaan dapat ditentukan dengan baik sehingga memungkinkan manajemen untuk mendesain standar sesuai dengan kondisi yang sesungguhnya.

2.1.1 Ruang Lingkup Penerapan Time & Motion Study
Dalam metode Time & Motion Study ini, pihak manajemen haruslah memperhatikan asumsi-asumsi mendasar yang harus digunakan pada setiap teknik pengukuran yang dipakai. Dengan kata lain, prosedur-prosedur yang harus dilaksanakan dalam metode time & motion study ini haruslah dilandasi pemikiran bahwa setiap aktivitas, pekerjaan ataupun proses selalu ada pemecahan terbaik, dan dalam pemecahan tiap aktivitas dan proses tersebut, metode yang bersifat scientific (ilmiah) selalu menjadi pemecahan terbaik. Selain hal tersebut, dalam penerapan metode time & motion study ini juga dilandasi pemikiran bahwa nilai waktu dari sebuah pekerjaan dapat diukur dalam satuan pengukuran yang bersifat konsisten. Dalam hal ini pemecahan terbaik bukanlah berarti menutup kemungkinan penerapan metode ilmiah lain yang dipandang lebih baik lagi dibandingkan metode time & motion study. Prosedur yang harus dilakukan dalam penerapan metode time & motion study initerdiri beberapa langkah-langkah kerja atau prosedur seperti :
1. Penentuan tujuan
Penentuan tujuan yang dimaksud adalah area pekerjaan atau aktivitas yang harus diselesaikan dan kriteria yang jelas untuk mengevaluasi area pekerjaan yang dimaksud. Kriteria untuk mengevaluasi tersebut antara lain meliputi kualitas yang lebih baik, keahlian tenaga kerja yang terbatas, waktu kerja yang makin berkurang, lebih banyak waktu yang diserap untuk berproduksi, pengurangan penggunaan material dengan harga yang lebih mahal, hasil yang lebih baik dari penggunaan material, waktu penggunaan peralatan yang makin sedikit, pengurangan penggunaan valuta asing dalam bertransaksi dan sebagainya.
2. Analisis
Yaitu prosedur memisahkan keseluruhan metode kerja yang digunakan dalam langkah-langkah, subdivisi, kesesuaian dengan lingkup pekerjaan, dan sebagainya. Dalam hal ini keahlian tertentu yang dimiliki oleh tenaga kerja yang melaksanakan pekerjaan tersebut sangat mempengaruhi kinerja aktivitas yang bersangkutan.
3. Kritisisme
Yaitu aplikasi terhadap analisis data yang telah dilakukan, dan pengecekan terhadap penyusunan langkah untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan.
4. Inovasi
Formulasi atas ide-ide baru yang diberikan untuk melaksanakan tugas dan pekerjaan.
5. Tes
Yaitu prosedur evaluasi dengan menggunakan dasar data yang telah dianalisis pada langkah 3 dengan formulasi metode yang diterapkan pada langkah 4 dengan mengacu pada tujuan yang dirumuskan pada langkah 1
6. Percobaan
Yaitu prosedur pengambilan sampel atas aplikasi dari metode yang digunakan pada langkah 4 dan dievaluasi dengan langkah 5, sehingga bisa memperhitungkan semua variabel yang bisa diukur dengan menggunakan metode time & motion study.
7. Aplikasi
Yaitu prosedur terakhir yang diterapkan dan merupakan final standardization, instalasi, pengukuran, evaluasi dan penggunaan atas metode yang telah dikembangkan tersebut. Prosedur penggunaan metode time & motion ini pada dasarnya sama untuk semua bidang atau lingkup kerja, baik digunakan didalam kantor, dalam lingkup industri pabrik, jasa rumah sakit, industri jasa lainnya bahkan aktivitas yang dilakukan oleh pemerintah. Yang berbeda adalah detil metode dan pelaksanaan untuk masing-masing industri, serta data yang dirangkum dan digunakan untuk melaksanakan tiap prosedur dalam time & motion study.

3. KESIMPULAN
Setiap perusahaan atau organisasi bisnis melakukan sejumlah aktivitas untukmenghasilkan produk yang sesuai dengan keinginan customer. Aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan semakin berkembang sesuai dengan perkembangan perusahaan itu sendiri, sehingga diperlukan suatu teknik pengukuran aktivitas yang dilakukan oleh perusahaan. Berbagai macam metode pengukuran aktivitas telah dikembangkan diantaranya adalah metode time & motion study. Dalam metode pengukuran tersebut setiap pergerakan aktivitas dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan aktivitas diukur dan dideteksi. Metode yang dikembangkan meliputi dua kerangka besar yaitu: metode pengukuran pergerakan atau perpindahan (motion study) dan metode pengukuran waktu atas suatu aktivitas (time study). Pengukuran pergerakan atas aktivitas dilakukan dengan teknik work-unit analysis, work activity analysis dan work sampling, process-chart product analysis. Sedangkan pengukuran atas waktu yang dibutuhkan untuk melakukan setiap aktivitas diukur dengan menggunakan direct-time study-extensive, intensive sampling, dan predetermined time studies. Dengan semua teknik pengukuran tersebut, perusahaan akan dapat melakukan pengukuran secara ilmiah dalam tiap aktivitas yang dilakukan, sehingga perusahaan dapat mendeteksi adanya peningkatan efisiensi waktu dan tenaga atau sumber-sumber yang dikorbankan untuk tiap-tiap aktivitas. Adanya pengukuran yang akurat atas setiap aktivitas akan membantu perusahaan dalam menentukan produktivitas setiap aktivitas yang dilakukan. Hal ini tentu saja akan membuat kondisi perusahaan menjadi baik dalam jangka panjang. Sedangkan adanya kebutuhan untuk melakukan efisiensi dalam segala aktivitas mendorong perusahaan untuk melakukan pembebanan biaya yang akurat atas aktivitas yang dilakukannya, sehingga perusahaan menerapkan sistem Activity-Based Costing (ABC). Dalam sistem ABC, biaya –biaya tidak langsung yang timbul dan dibebankan kepada produk berdasarkan aktivitas yang membentuk produk tersebut sehingga unsur biaya produk yang dibebankan semakin akurat. Penggunaan metode Time & Motion Study yang diintegrasikan dengan metode ABC dalam hal pembebanan biayanya, akan mempengaruhi produktivitas dan efisiensi biaya perusahaan. Dengan integrasi yang saling melengkapi antara metode time & motion study dan metode ABC, maka dapat membantu meningkatkan produktivitas perusahaan dan efisiensi biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan pada suatu periode.










DAFTAR PUSTAKA

Gayle, Rayburn.L (1996), Cost Accounting: Using A Cost Management Approach, sixth edition, Irwin Publishing Company, USA.

Hansen, Don.R and Maryanne M.Mowen (1999), Management Accounting, Fifth edition, South-Western Publishing Company, USA.

Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 3, No. 1, Mei 2001: 30 – 50

Jurusan Ekonomi Akuntansi, Fakultas Ekonomi - Universitas Kristen Petra

Http://Puslit.Petra.Ac.Id/Journals/Accounting/

Horngren, Charles.T, Stratton and Sundem (2000), Cost Accounting: A Managerial Approach, Tenth edition, Prentice-Hall Publishing Company, USA.

Morse, Davis and Graves (1996), Management Accounting: A Strategic Approach, first edition, South-Western Publishing Company, USA.

Mundel, Marvin, E. and David L.Dunner (1994), Motion & Time Study: Improving Productivity, Seventh edition, Prentice-Hall Publishing Company, USA.

Trischler, William.E, (1996), Understanding & Applying Value-Added Assesment: Eliminating Business Process Waste, First edition, ASQC Quality-Press, Wisconsin, USA.

Senin, 22 Maret 2010

TUGAS 1 RISET AKUNTANSI

TUGAS 1 (RISET AKUNTANSI)
1.
• Judul = ANALISIS RASIO LIKUIDITAS, PROFITABILITAS, AKTIVITAS, SOLVABILITAS DAN INVESTMENT OPPORTUNITY SET DALAM TAHAPAN SIKLUS KEHIDUPAN PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK JAKARTA (BEJ) TAHUN 2001 – 2005.
• Penulis = ARDI HAMZAH
• Waktu Penerbitan = 18 April 2006
• Nama majalah = Journal of manajerial finance
• Lembaga penerbitan = Universitas Trunojoyo
• Volume = volume 27
• Nomor majalah = Nomor 3

2.
• Komponen – komponen
1. latar belakang masalah
2. kajian teori dan pengembangan hipotesis
3. metode penelitian
4. pengujian empiris dan hasil
5. kesimpulan
6. referensi
7. lampiran

3. artikel penulisan diatas termasuk basic research.

ABSTRAK 1


ABSTRACT

The objective of this research is to analysis of liquidity, profitability, activity and
solvency ratios on investment opportunity set (IOS) in the stages of life cycle of
manufacturing firms that are listed on the Jakarta Stock Exchange. The sample of the study
are manufacture firms listed on the Jakarta Stock Exchange that distributed dividend
successively in 2001 – 2005. Sample size consists of total is 135 firms.
This study indicates that on the start-up stage, activity and solvency ratios have effect
on IOS. On the initial expansion stage, activity ratio has effect on IOS and on the final
expansion no ratio has effect on IOS. For mature and decline stages, also no ratio has effect
on IOS. Therefore, financial ratios can be used manufacture firm analysis tools at start-up
and initial expansion stages, but not at final expansion, mature and decline stages.
Keyword: liquidity, profitability, activity, solvency, investment opportunity set,
manufacturing firms

http://74.125.153.132/search?q=cache%3AbTWgeauqiMIJ%3Awww.akademik.unsri.ac.id%2Fdownload%2Fjournal%2Ffiles%2Fudejournal%2Fardi%2520hamzah.pdf+analis+rasio+keuangan+journal+vol&hl=id&gl=id

ABSTRAK 2

ABSTRAK

Kemajuan perusahaan sebagai organisasi bisnis, membuat aktivitas
yang dilakukan oleh perusahaan semakin meningkat. Berbagai macam
aktivitas dilakukan oleh perusahaan dalam rangka memenuhi apa yang
menjadi kebutuhan dan keinginan customer. Perusahaan berusaha untuk
meningkatkan efisiensi aktivitas dan melakukan pengukuran tingkat
aktivitas yang dilakukan, padahal tingkat kesulitan yang dihadapi
perusahaan untuk melakukan pengukuran setiap aktivitas yang dilakukan
cukup tinggi. Metode time & motion study memberikan solusi bagi
perusahaan untuk melakukan pengukuran tingkat aktivitas yang
dilakukan. Setiap pergerakan atau perpindahan suatu aktivitas
mengkonsumsi waktu dan sumber daya, sehingga terdapat banyak teknik
pengukuran time & motion study seperti work sampling, work-unit
activity, time standard dan sebagainya. Dengan berbagai teknik
pengukuran tersebut, maka perusahaan akan dapat mengukur tingkat
produktivitas setiap sumber daya yang digunakan dalam menyelesaikan
aktivitas. Untuk melengkapi teknik efisiensi biaya pada perusahaan, maka
perusahaan perlu melakukan pembebanan biaya yang akurat. Dalam hal
ini metode Activity-Based Costing (ABC) adalah metode yang dianggap
paling sesuai untuk diintegrasikan karena metode ABC pada dasarnya
membebankan biaya-biaya tidak langsung berdasarkan aktivitas yang
dilakukan oleh perusahaan. Dengan mengintegrasikan metode time &
motion study dengan ABC, maka perusahaan akan dapat mengendalikan
dan mengukur produktivitas serta efisiensi biaya yang dilakukan karena
kedua metode tersebut saling melengkapi untuk melakukan aktivitas
perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan dan keinginan customer.
Kata kunci: time & motion study, activity-based costing, produktivitas,
efisiensi biaya, pembebanan biaya, waktu standar.

Http://Puslit.Petra.Ac.Id/Journals/Accounting/

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites